Showing posts with label Clothes. Show all posts
Showing posts with label Clothes. Show all posts

Sejarah Dibalik Penemu Gantungan Baju

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIHfsB98YUds92YU82qeFXFTQFKf1vSXBrnZugMPzSl2eHe3H5wrNgrgRx82ykBkNlNfJvKKUUKm7kTBFLdkVprv9ZW7UquTdgq6LA1bItw3P99CxVNlbs15AXl1k6Hi6Dx70_k1BoSys/?imgmax=800

Suatu pagi di tahun 1903, Albert J Parkhouse tiba di tempat kerjanya, Timberlake Wire and Novelty Company, di Jackson, Michigan. Ini adalah perusahaan kap lampu dan komponennya. Sampai di kantor dia hendak menggantukan jasnya di salah satu pojok ruangan yang memang sudah disediakan untuk semua karyawan. Cuma, saat itu semua paku yang dipakai untuk menggantungkan jas terisi penuh.

Dia tak kehilangan akal. Parkhouse lalu mengambil kawat dan membentuknya menjadi mirip gantungan baju yang kita lihat saat ini. Lalu dia taruh jasnya di kawat, dan kawatnya kemudian digantungkan di paku yang sebenarnya sudah terisi jas milik karyawan yang lain.

Melihat kelakuan Parkhouse, pihak perusahaan lalu muncul insting bisnisnya. Itu dianggap sebagai ide yang potensial untuk dikembangkan. Lalu perusahaan menyarankan Parkhouse mematenkan kawat gantungan baju buatannya. Pada 25 Januari 1904, dia patenkan gantungan baju itu dengan nomor #882.981. Kemudian pengembangkan dari gantungan baju ini dipatenkan lagi di tahun 1907.

Sebagian sejarawan menyebutkan bahwa penemu gantungan baju adalah Presiden Thomas Jefferson. Namun buktinya tidak tercatat paten, sehingga kebanyakan orang percaya bahwa Parkhouse-lah yang menemukan gantungan baju yang sekarang banyak kita gunakan.

Tahun 1906, Meyer May menjadi penjual baju pertama dengan merek Grand Rapids di Michigan yang menggunakan gantungan baju untuk mendisplay dagangannya. Dan saat ini, bisa dikatakan semua toko busana menggunakan alat tersebut untuk mendisplay baju. Bentuk gantungannya pun telah berkembang menjadi banyak rupa.
Bookmark Blog Ini!

Sejarah Pemakaian Kancing Baju

 http://www.oktomagazine.com/images/c_23bfa3047e05ee0de46a36680b853cb8.jpgSebenarnya, tidak ada orang yang dapat memastikan, siapa yang pertama kali menggunakan kancing baju. Kapan digunakan? dan di daerah mana yang menggunakannya. Tampaknya pemakaian kancing baju sudah dimulai sejak dahulu kala, sejak awal sejarah. sebagian ahli mengatakan mungkin bahkan 30.000 atau 40.000 tahun lalu! Namun di beberapa belahan dunia, kancing baju tidak digunakan sama sekali. Bagaimana pun, ada banyak cara untuk mengancingkan baju tanpa kancing baju, contohnya : dengan peniti, gesper, tali, sabuk, lipatan, maupun dengan cara diikat
 
Pada abad 14 kancing baju menjadi populer di Eropa dan sejak itu kancing baju tidak pernah melepaskan diri dari fashion. Kancing baju dibuat dari beraneka bahan. Logam yang dipakai untuk kancing baju termasuk emas, perak, baja, tembaga, timah, nikel, brass, campuran timah putih dan timah hitam, dan perunggu. Produk-produk binatang juga digunakan untuk membuat kancing baju dan ini termasuk tulang, tanduk, kuku, rambut,, kulit, gading, dan kerang. Daftar ini masih bisa ditambah lagi tanpa batas, sebagian dibuat dari kaca, kertas, dan porselin. Sekarang, kancing baju banyak dibuat dari bahan plastik yang beraneka warna dan bentuk. Ada yang berbentuk lingkaran biasa, bunga, dll. Kancing baju juga tersedia beberapa ukuran, dari besar, sedang, kecil, dan sangat kecil.

Bookmark Blog Ini!

Sejarah Sang Pelopor Kiper Bersarung Tangan



Satu ciri khas yang melekat pada seorang kiper dan membedakannya dari pemain lain adalah sarung tangan yang membungkus jemari dan telapak tangan. Namun, tahukah kamu, siapa penjaga gawang pertama yang memakainya? Dialah Amadeo Carrizo, salah satu kiper terbesar dan terbaik yang pernah dimiliki Argentina.

Carrizo memulai debut profesional bersama River Plate saat umurnya baru menginjak 19 tahun. Tak diketahui pasti apakah pada saat itu dia sudah mengenakan sarung tangan untuk memproteksi tangannya. Namun, satu hal yang jelas, Carrizo mulai memakainya antara dekade 1940-an dan 1950-an.

Sarung tangan yang dipakai Carrizo tentu belumlah seperti saat ini yang didesain dengan tingkat keamanan yang tinggi bagi pemakainya. Carrizo hanya memakai sarung tangan dari bahan kain biasa.


Ini sebuah terobosan baru karena di Eropa sendiri tren penggunaan sarung tangan oleh kiper baru marak pada 1970-an. Itu pun beberapa kiper justru merasa terbebani olehnya. Hingga 1980-an, masih banyak kiper yang tak suka memakai sarung tangan. Mereka hanya memakainya jika cuaca tidak bersahabat.

Sebelum teknologi sarung tangan diperkenalkan, para kiper tak berbeda jauh dengan para pemain di posisi lain. Pasalnya, saat berusaha menyelamatakan gawang dari gempuran lawan, mereka biasanya meluncur dengan kaki terlebih dahulu, tak ubahnya seorang bek saat melakukan tekel. Bahkan para kiper nomor wahid macam Frank Swift, Ted Ditchburn, dan Bert Trautmann pun melakukan hal serupa.

Selain sebagai pemakai sarung tangan pertama, Carrizo yang dijuluki Tarzan dan Si Mesin ini juga dikenal sebagai pelopor kiper yang tak ragu keluar dari wilayahnya. Menurut Eduardo Galeano, penulis buku Soccer in Sun and Shadow, Carrizo-lah kiper pertama yang tak ragu memulai serangan dan menggiring bola melewati pemain lawan. Sebelum Carrizo, tindakan gila seperti itu tak pernah terpikir sebelumnya.
Bookmark Blog Ini!

Sejarah Perkembangan Seragam Sekolah

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEdw1X8URZEusopVVGhSIYxTM_DfnrJYW91U53irG-lJcr9vdcL6JkuXTeBsRqDgWFRwoFAqRBY_A3ytLE6O2raDL9JJyph1sha3XMIpGYnNk5c5k1kQi2KVAW1O30Bwp1P5u2kXBsYkA/s1600/ubiforms.jpg
Seragam sekolah pertama kali dikenalkan di Inggris pada abad ke-16. Sekolah yang pertama kali mengenalkan seragam sekolah ini bukanlah sekolah elite bagi para bangsawan. Justru sebaliknya, seragam sekolah saat itu hanya diberlakukan untuk sekolah-sekolah bagi rakyat miskin.

Salah satu sekolah yang dicatat sejarah sebagai sekolah yang mengenalkan seragam bagi murid-muridnya itu adalah sekolah desa Jan Steen’s Dutch. Sekolah ini mulai berjalan di Inggris tahun 1665. Banyak lagi sekolah charity lain bagi murid-murid miskin yang saat itu juga mewajibkan muridnya berpakaian seragam. Tujuannya tidak lain adalah untuk membedakan murid-muridnya dari sekolah umum yang saat itu sudah berbayar.

Pembedaan seperti ini terjadi bertahun-tahun. Barulah di tahun 1960-an, penggunaan seragam sekolah ini mengalami pergeseran. Saat itu sekolah-sekolah mulai menjadikan seragam sebagai identitasnya. Bahkan kemudian pergesar itu menjadikan seragam sekolah jadi pembeda bagi murid-murid berkemampuan tinggi. Sekolah-sekolah bagi murid kaya berlomba membuat pakaian seragam yang sangat bagus untuk membedakan dari sekolah biasa.

Selain jadi pembeda status ekonomi, seragam sekolah kemudian juga menjadi identitas bagi sekolah-sekolah negeri. Di beberapa wilayah ada yang hanya mewajibkan pakaian seragam hanya bagi murid-murid sekolah negeri. Sedangkan di sekolah swasta, murid-muridnya bebas mengenakan pakaian yang penting sopan.

Dalam perkembangannya memang fungsi seragam juga terbalik. Pakaian yang semula bertujuan untuk mengaburkan status sosial, tapi kejadiannya justru sebaliknya. Dalam banyak kasus, keberadaan pakaian seragam sekolah malah jadi pembeda. Seragam sekolah kemudian menjadi identitas status sosial bagi murid-murid sekolah.
Bookmark Blog Ini!

Sejarah Penggunaan T-Shirt / Kaos


Dimulai pada awal tahun 1900-an selama Perang Dunia I. Tentara Amerika Serikat menyadari para tentara Eropa telah nyaman memakai kemeja katun. Sehingga Amerika berpikir mereka harus membuat pakaian yang jauh lebih baik daripada seragam wol yang telah mereka pakai selama ini. Sehingga muncullah ide pembuatan Kaos dan muncullah kaos sebagai pakaian dalam seragam di medan perang.
 
http://tshirtspotlight.com/wp-content/uploads/2011/01/Life-Cover-1942-first-words-printed-on-a-shirt.jpgPendapat lain yang muncul adalah mengatakan bahwa kaos pertama kali dipakai oleh para tentara angkatan laut Amerika Serikat ketika sedang berlayar di lautan. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak pernadapat mengenai asal mula Kaos. Namun demikian, kaos yang pada awalnya hanya dipakai sebagai pakaian dalam dan tidak dianggap modis sama sekali saat ini telah mampu menjadi trend fashion di dunia. Telah muncul berbagai macam jenis kaos untuk berbagai macam keperluan. Kaos club, kaos couple, kaos partai, kaos brand, dan aneka jenis kaos lainya. Dan yang paling terkenal adalah kaos sepak bola.

Sebagian besar orang akan setuju bahwa nama lain kaos adalah T-shirt karena bentuk kaos yang menyerupai huruf “T”. Namun dalam beberapa kasus terdapat perbedaan pendapat. Beberapa pendapat mengatakan nama lain kaos yaitu “T-Shirt” muncul dari asal mula kaos yang sering di gunakan sebagai kaos latihan para tentara yang biasa di sebut “Training Shirt“.

Pendapat lain yang lebih aneh adalah kata “T-Shirt” berasal dari kata “tee” dalam kata “Amputee” yang berarti amputasi yang berkaitan dengan model kaos yang merupakan model dari pakaian lengan panjang yang di “amputasi”. Lucu memang, namun itulah pendapat yang muncul dari sejarah asal mula kaos ini.

Kaos tidaklah menjadi begitu populer sampai dengan muncul dan berkembangnya budaya pop. Banyak tokoh-tokoh budaya pop yang memakai Kaos, Seperti James Dean dan Marlon Brando yang mengenakan kaos di layar lebar. Hal itu membuat kaos saat ini menjadi simbol status dan trend fashion.
Bookmark Blog Ini!

Sejarah Gaun Pengantin

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXZleCfX_H079cTWZQ2AzVE1ckCKTRermaZeHD6CUpd0CO3j8VLOZQeQ04901cPT1-606Ws9KW4UnckDB7zOCx3AD-9q3r-qmN0SF5Gem0PDHZPCmn8r1gEHfLXgwDGlaONziIWAN0Ppm8/s320/butik+gaun+pengantin+2.jpg 

Pada abad pertengahan, warna baju dan jenis bahannya digunakan sebagai penanda status sosial seseorang. Hanya kaum kerajaan dan bangsawan saja yang bisa menggunakan bahan sutera, satin, beludru, renda, dan menggunakan warna-warna “grandeur”, seperti emas, ungu dan biru. Hal ini karena pada masa itu, teknik penganyaman benang, teknik ekstraksi zat pewarna kain dan proses pewarnaan kain dilakukan secara manual dan karena bahan-bahan yang digunakan pun tergolong sulit diperoleh sehingga kain-kain indah tersebut tidak dapat diproduksi secara massal. 

http://www.audrey1987.com/wp-content/uploads/2012/08/bridaldress_history_answer1-300x262.jpg

Tak pelak pada masa itu, hanya gadis-gadis bangsawan yang akan merayakan pesta pernikahan mereka yang bisa mengenakan baju dan perhiasan berwarna “grandeur” tadi. Adapun gadis-gadis dari kasta sosial yang lebih rendah hanya bisa berusaha meniru bentuk baju dan penampilan para bangsawan yang menjadi trendsetter era itu. Jarang sekali mereka bisa menggunakan baju pernikahan dengan warna “grandeur” tersebut karena mahal.

http://www.firstcoastweddings.com/wordpress/wp-content/uploads/2012/01/Queen-Victoria1.jpgPutih tetap tidak menjadi warna pilihan untuk gaun pengantin sampai tahun 1840, di mana Ratu Victoria mengenakan gaun pengantin putih saat menikah dengan Pangeran Albert of Saxe-Coburg (Yulis, 2010). Statusnya sebagai keluarga kerajaan sekaligus simbol gadis bangsawan ternama, membuat gaun pengantin putih mewah berhiaskan penuh renda Honiton Lace yang dikenakan oleh Ratu Victoria itu menjadi trendsetter berikutnya. Booming-nya gaun pengantin ala Ratu Victoria yang memiliki ciri khas gaun yang membentuk ballgown, warnanya putih kadang broken white, dan menonjolkan pinggang serta pinggul sang pengantin wanita itu menyebabkan naiknya permintaan terhadap bahan-bahan gaun putih mewah. Hal ini berdampak pada para pembuat bahan dan renda gaun pengantin kewalahan memproduksinya, karena di masa itu renda putih juga masih dibuat secara manual. Belum lagi gaun putih termasuk sulit dirawat karena kotoran yang menempel akan tampak jelas di situ. Akhirnya beberapa pengantin dari kelas sosial yang lebih rendah kembali mengenakan gaun pengantin dengan warna selain putih, kecuali warna hitam (warna berduka) dan warna merah menyala (warna yang kala itu, identik dengan the brothel house).

Sejak era Victorian itulah maka tradisi mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang menyimbolkan kesucian itu menjadi gaya yang selalu ditiru oleh para wanita. Meski kemudian tidak hanya warna putih plain saja yang dipilih, tetapi juga bisa dengan nuansa gradasi putih seperti creme, champagne, broken-white, off white and ivory. Sampai sekarang pun yang disebut-sebut sebagai era globalisasi, putih tetap lestari di kalangan para wanita sebagai pilihan utama warna baju pengantin. Putih seolah menjadi warna privilege dan memiliki cap “For Bride-Only” yang menyertainya untuk menjadi warna baju pengantin para pengantin wanita yang ingin tampil beda dan anggun di hari pernikahannya. Bahkan tidak hanya gaun pengantin modern ala Barat saja yang memakai putih sebagai “warna resmi”; di beberapa negara, baju pernikahan bernuansa adat seperti kebaya, baju kurung, kimono dan cheongsam pun turut mengadopsi warna putih. Sebuah pantun Inggris kuno berikut ini mencoba menggambarkan “nasib” yang dibawa oleh warna baju pengantin:

Married in white, you will have chosen all right. Married in grey, you will go far away. Married in black, you will wish yourself back. Married in red, you’ll wish yourself dead. Married in blue, you will always be true. Married in pearl, you’ll live in a whirl. Married in green, ashamed to be seen. Married in yellow, ashamed of the fellow. Married in brown, you’ll live out of town. Married in pink, your spirits will sink
Bookmark Blog Ini!

Sejarah Munculya Jas (Tuxedo)

http://www.mensusa.com/images/RetailMost-Luxurious-Framed-Tuxedo-2-Button-Tuxedo-Merino-Wool-On-Sale.jpg 

Jas (tuxedo) mulai muncul di tahun 1860 ketika Henry Poole & Co. membuat setelan khusus - short smoking jacket - bagi Pangeran Inggris, Edward VII untuk dikenakan pada acara makan malam.

Enam tahun kemudian, saat sang pangeran diundang oleh jutawan Amerika James Potter, ia pun langsung merekomendasikan pada James Potter agar memesan pakaian yang sama ke Henry Poole untuk acara makan malam.

James kemudian mengenakan setelan tersebut ke country klub paling top di New York, Tuxedo Park Club. Secara cepat, pakaian jenis baru ini menarik minat anggota lain dan kepopulerannya terus menanjak.

Info tambahan: Orang Amerika menyebutnya tuxedo, sementara di negara asal, Inggris awalnya disebut dinner jacket atau smoking jacket.

Sebelum kemunculan tuxedo, kalangan seniman, bohemian sering mengenakan setelan tiga rangkap yang terdiri dari jas lounging dengan tali pengikat di pinggang, dipadu rompi serasi dan celana panjang.

Demikian juga dengan bangsa Turki yang sudah memakai mantel serupa jas sebelum abad ke-18. Kemudian, bangsa Inggris merekayasa mantel Turki dengan memotongnya lebih pendek jadi jaket sepinggang yang disebut waistcoat.

Penjahit istana memperkaya pakaian itu dengan sulaman dari benang emas dan perak, begitu juga hiasan dekoratif di celana. Tak jarang, setelan jas dijahit dari bahan mewah beludru yang membuat reputasi bangsawan Inggris semakin berkilau.

http://www.s9.com/images/portraits/18522_Louis-XIV.jpgHal tersebut membuat Raja Louis XIV berang. Sebagai pencinta penampilan, ia tak suka mendengar kejayaan Inggris Raya. Sang raja pun memasang taktik untuk merendahkan pakaian bangsawan Inggris dan para penjahitnya. Jas pendek gaya aristokrat Inggris, justru digunakan Prancis untuk seragam tentara infantri. Bahkan pelayan rumah tangga istana diharuskan mengenakan jas pendek itu.
Tanpa diduga, jas pendek Inggris justru semakin populer dan tren di Prancis. Pakaian yang awalnya dibenci malah diminati seluruh daratan Eropa.

Tak ayal, Raja Louis pun mengenakannya hingga masa pemerintahannya berakhir. Lalu, Prancis pun menyempurnakan jas asal Inggris itu dengan dekorasi sulaman yang kaya motif, corak dan mewah yang gemerlap. Kemudian mengklaim jas pendek itu sebagai hasil temuannya.

Jadi, siapa sangka gara-gara perseteruan Prancis dan Inggris malah membuat jas dikenal banyak orang dan semakin populer.
Bookmark Blog Ini!

Sejarah Singkat BH (Pakaian Dalam Wanita)

http://www.fashionmike.com/files/2012/07/how-to-buy-a-bra1.jpg

Sejarah bra dimulai sejak 2500 tahun sebelum Masehi, di mana saat itu para cewek di pulau Kreta, Yunani telah menggunakan pakaian sejenis bra di luar pakaian mereka untuk mengangkat payudara mereka. Tahun 450 sebelum Masehi, cewek Romawi menggunakan semacam kemben untuk mengatur ukuran payudara mereka.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRaDusLOtQzdPMXdnRXZ0YlxjDmgE-canHkWV5DzDzSUUfMhjuEFLqu-GDveBpvstyshj51lIa_6AviYfcLpS3j_dkR0DPcDn6fdK9lLJKyogbrLgs7WN5gSLp1ifQjlA-J5yNE0dtTOM/s1600/breast+supporter.jpg
http://sphotos-a.xx.fbcdn.net/hphotos-prn1/c0.0.403.403/p403x403/59571_471424859584944_976833035_n.pngPada tahun 1893, Marie Tucek tercatat pada kantor hak paten Amerika Serikat sebagai pencipta breast supporter, pakaian yang amat mirip dengan modern bra. Pada tahun 1912 istilah brassiere tercantum pada Oxford English Dictionary.

Modern bra pertama kali dipatenkan pada tahun 1914 oleh seorang socialite dari New York bernama Mary Phelps Jacob. Namun, ia menjual hak patennya pada Warner Brothers Corset Company di Connecticut, Amerika Serikat seharga $1,500 yang kemudian menghasilkan lebih dari 15 juta dolar 30 tahun setelahnya.
Di tahun 1928, Ida Rosenthal, seorang imigran asal Rusia menciptakan sistem pengukuran cup pada bra dan mengembangkannya untuk tiap tahap kehidupan dari masa puber hingga kedewasaan. Baru di tahun 1935, Warner menciptakan sistem pengukuran cup yang kita ketahui sekarang dari A hingga D yang segera diterapkan oleh produsen bra lainnya.
Bookmark Blog Ini!

Sejarah Terciptanya Resleting (Zipper)

http://us.123rf.com/400wm/400/400/lembit/lembit1110/lembit111000054/10821278-abstract-jazz-background-with-piano-and-open-zipper.jpg

Penemuan resleting disebabkan oleh sifat tidak sabar sang penemunya. Dulu, resleting tidak digunakan untuk pakaian tetapi digunakan pada sepatu dan sepatu bot. Untuk mengetahui kisah tentang resleting ini, kita harus kembali dulu ke tahun 1890-an yaitu di zaman ketika sepatu memiliki kancing yang tinggi. Sepatu model seperti ini memerlukan jari-jari yang cekatan dan kesabaran untuk memasang dan melepaskan kancingnya.

Whitcomb Judson hidup di zaman itu, dan kebetulan ia bukan termasuk ke dalam orang yang sabar. Untuk memakai sepatu kadang menghabiskan waktu lebih dari 15 menit, sungguh pekerjaan yang sangat menyebalkan. Berkat ‘ketidaksabaran’ nya, ia pun mencari ide bagaimana caranya memakai sepatu dengan cepat. Ia pun menemukan alat yang yang ia sebut pengait untuk mengunci dan membuka sepatu. 

http://www.uh.edu/engines/oldzip.jpgAlat ini terdiri dari dua rantai metal tipis yang dapat disatukan dengan menarik sebuah slider ditengah-tengahnya. Alat ini dipatenkan tahun 1893. Hanya saja, penemuan Judson ini tidak bekerja baik. Alat ini kadang sering macet, terlepas atau bahkan terbuka sendiri. Judson putus asa tapi ia tidak menyerah. Ia yakin suatu saat penemuannya akan terkenal.

Tahun 1896, Judson bergabung dengan Kolonel Lewis Walker. Dari Walker-lah timbul ide untuk mempergunakan alat itu pada macam-macam benda, tidak hanya pada sepatu. Tahun 1910, Judosn merancang alat perekat baru yang telah diperbaiki. Alat itu disebut C-Curity dan dijual dengan harga 35 sen. Alat ini tidak digunakan untuk alas kaki, tapi untuk celana panjang dan rok wanita. Setelah bertahun-tahun, alat temuan Judson ini mulai terkenal. Kegunaannya pun meluas, tidak hanya untuk sepatu atau pakaian saja. Hanya saja, alat ini tidak punya nama.

Suatu hari, seorang pengusaha mengunjungi Judson di pabriknya. Judson memperagakan bagaimana alat itu bekerja. Tiba-tiba pengusaha itu berteriak saking kagumnya, “Wow Zipper!!”. Semenjak itu, alat temuan Judson ini dinamakan Zipper dalam bahasa Inggris atau disebut Resleting oleh orang Indonesia.
Bookmark Blog Ini!

Sejarah Di Balik Merk Yeah Right Dan Woles

Di umur yang masih cukup muda, yaitu di usianya yang ke-18, Agit harus menerima kenyataan pahit. Saat itu, sang ibu telah meninggalkannya untuk selamanya. 40 hari kemudian, sang Ayah menyusul ke pangkuan sang khalik. Ia beserta beberapa kakaknya, berjuang untuk meneruskan hidup tanpa orang tua. Setelah lulus SMA, Agit pun tidak melanjutkan kuliah karena tidak ada biaya, ia lalu bekerja di salah satu distro di kawasan Kebayoran Baru sebagai shop keeper.

Karena kemauan kerja dan belajarnya yang kuat, beberapa bulan kemudian ia diangkat menjadi store manager yang merangkap sebagai marketing promo dan beberapa bidang lainnya. Hingga beberapa tahun berjalan, ia pun menjadi orang yang berpengaruh dalam perkembangan distro tersebut.

Di kala bekerja, ia mempunyai keinginan untuk memiliki merk clothing line sendiri. Namun karena keterbatasan modal, dengan uang yang ada ia memiliki ide untuk membuat stiker. Merk pertama yang ia punya adalah “Yeah Right”, sekitar dua tahun yang lalu. Produk pertamanya juga masih sebatas stiker, ia belum memproduksi pakaian apapun.

Setelah itu barulah ia mencoba untuk mendesign sendiri kaos ciptaannya dengan menyelipkan sebuah stiker dengan gambar baby octo, sebuah gambar gurita lucu berwarna ungu. Gambar gurita dengan empat buah tangan tersebut terinspirasi dari sang Ibu yang memiliki empat orang anak dan berjuang untuk membahagiakan hidup mereka.

Ternyata Yeah Right mendapat banyak apresiasi dari banyak pihak. Desainnya yang lucu ternyata sangat disukai hingga saat ini. Merk ini banyak dipakai oleh para musisi dan public figure lainnya. Perjuangan anak muda ini pun bisa dikatakan berhasil. Namun, ia tidak berhenti berinovasi sampai di situ saja. Setahun kemudian ia membuat merk selanjutnya bernama WOLES.


Latar belakang terciptanya WOLES pun cukup menarik. Itu bermula pada saat ia memperhatikan tweet orang-orang yang ia follow di jejaring media sosial, Twitter. Setiap status teman yang mengeluh tentang macetnya Jakarta atau status lain yang menyuarakan keresahan, Agit selalu merespon dengan kata “woles” yang berarti santai. Hal tersebut berlangsung hingga beberapa waktu.

Selanjutnya, pria bernama lengkap Agtya Priyadi ini pun memiliki ide untuk membuat sebuah gimmick baru mengenai hal-hal yang berhubungan dengan woles. Ia lalu membuat stiker sederhana bertuliskan “woles” yang ditempelkan di cover handphone teman-temannya.

Setelah itu, ia bahkan menempelkannya di tempat-tempat umum dan juga memposting gambar tersebut di Twitter. Lalu ia mencoba untuk membuat sebuah kaos sederhana dengan tulisan “woles”.

Ternyata respon yang diterima jauh melebihi ekspektasinya. Banyak orang yang menyukainya bahkan pemesanannya lebih luar biasa daripada Yeah Right sendiri.
Bookmark Blog Ini!

Sejarah Merk Peter Says Denim


shoppingasik.com - Peter Says Denim merupakan brand asal kota Bandung yang berdiri sejak bulan November 2008 dan pemiliknya adalah Peter Firmansyah. Pria asal Sumedang ini sejak SMA memang gemar untuk mengubek-ubek pakaian di pedangang kaki lima, tapi sekarang pria ini sudah berhasil membuat brand sendiri, dan terkenal di Luar Negeri.

Tak butuh waktu relatif lama. Semua itu mampu dicapai Peter hanya dalam waktu 1,5 tahun sejak ia membuka usahanya pada November 2008. Kini, jins, kaus, dan topi yang menggunakan merek Petersaysdenim, bahkan, dikenakan para personel kelompok musik di luar negeri.

Sejumlah kelompok musik itu seperti Of Mice & Man, We Shot The Moon, dan Before Their Eyes, dari Amerika Serikat, I am Committing A Sin, dan Silverstein dari Kanada, serta Not Called Jinx dari Jerman sudah mengenal produksi Peter. Para personel kelompok musik itu bertubi-tubi menyampaikan pujiannya dalam situs Petersaysdenim. Untuk Band Lokal sendiri yang berhasil di endorse band semacam Rocket Rockers, Saint Loco.

Hasrat Peter terhadap busana bermutu tumbuh saat ia masih SMA. Peter yang selesai SMA lalu dia menjadi pegawai toko pada tahun 2003 di surfing industry yang membuat produk seperti Rip Curl, Volcom, Globe, hingga Rusty. Untuk mempromosikan brand produknya, Peter Firmasnyah memanfaatkan internet dengan cara memanfaatkan fungsi jejaring sosial di internet, seperti Facebook, Twitter, dan surat elektronik untuk promosi dan berkomunikasi dengan pengguna Petersaysdenim. 

Strategi lain yang bisa dilakukan Peter adalah dengan meng- endorse band-band lokal maupun internasional. Band-band yang di endorse memang bukan band nomer satu, tapi inovasi yang dilakukan Peter itu patut mendapat apresiasi. Bahkan menjadi inspirasi brand yang lain untuk melakukan hal yang sama, berkat inovasinya itu penjualannya pun semakin meningkat. Kepandaian bergaul dan sedikit kemampuan marketing membuat brand PSD pun semakin berkibar.Ini merupakan salah satu kebanggan bagi masyarakat Indonesia, untuk bangga terhadap produk lokal, serta menjadi pembelajaran bagi para generasi muda Indonesia.
Bookmark Blog Ini!

Rekomendasi Sejarah

Join Us